Webinar Google Ads: The Ultimate Guide To Google Ads (Basics) – Part 2

Transcript Video:

Ini adalah video replay Webinar Google Ads part 2 yang diadakan oleh mas Sugi dari Tazada.

OK, teman-teman kita lanjut lagi ke part yang kedua ya, masih di tema yang sama tentang The Ultimate Guide To Google Ads (Basics). Nah, di part kedua ini, agendanya kita akan membahas:

  • Ad formats
  • Ad extensions
  • Ad features
  • Conversion tracking

Apa itu Iklan?

Nah, kita akan masuk langsung ke Ad formats. Ini sekilas apa sih iklan itu? Tugas utamanya apa sih iklan itu?

Iklan itu mungkin kita bisa artikan sebagai jembatan antara customer atau audience dengan website kita. Jadi, mereka diharapkan menemukan iklan kita dan mengkliknya.

Jadi, iklan kita ini ibaratnya tugasnya itu bagaimana bisa mendapatkan klik yang banyak atau dengan kata lain juga bisa CTR-nya yang tinggi. Karena ketika tayang kalau CTR-nya tinggi kemungkinan untuk dikliknya lebih besar. Jadi, salah satu indikator iklan yang bagus itu ya berarti iklan yang mendapatkan CTR yang tinggi. Gitu saja sih sederhananya.

Ketika misalnya teman-teman melihat ada iklan, kan dalam pembuatan campaign itu pasti teman-teman tidak hanya membuat 1 iklan ya, misalnya 3 iklan. Nah, dari 3 iklan itu ada 1 iklan yang misalnya sangat berbeda CTR-nya. Yang 1 misalnya di atas 10%, yang 1 hanya mendapatkan 5% atau di bawah 5%.

Apa yang harus dilakukan ketika menemukan iklan seperti itu?

Mungkin tips dari saya, teman-teman bisa pause saja iklan tersebut dan buatlagi iklan dengan versi yang baru. Dengan harapan bisa memperbaiki CTR-nya. Sesimpel itu.

Ad Formats

Kemudian kita lihat Ad Formats. Format apa saja sih yang bisa kita gunakan yang bisa kita pilih dalam pembuatan iklan di Google Ads?

  • Text ad
  • Responsive search ad
  • Call ad
  • Dynamic Search Ad
  • Responsive display ad

Ini ada banyak ya, mungkin yang kita akan coba bedah lebih detail ini, yang Responsive search ad. Karena Responsive search ad ini Google sendiri juga sangat menyarankan. Karena secara general data dari Google menunjukkan iklan dari Responsive search ad bisa menerima CTR yang lebih tinggi. Rata-rata seperti itu, dibandingkan dengan Text ad yang biasa.

Bahkan, saat ini ketika kita membuat iklan, biasanya Text ad-nya disembunyikan. Jadi, hanya Responsive search ad lalu nanti bisa di-switch back to extension Text ad. Jadi, Responsive search ad sangat disarankan.

Ya, bisa jadi Text ad mungkin kedepannya tidak ada lagi. Karena sebenarnya pada dasarnya sama saja.

Responsive search ad juga adalah Text ad

hanya saja Responsive search ad memiliki aset yang lebih luas.

Kemudian ada yang namanya Call ad. Call ad ini fungsinya secara khusus hanya bisa ditayangkan di mobile. Dan kalau iklannya diklik, dia bukan membuka website. Tapi langsung call, siap untuk melakukan panggilan telpon lewat device yang kita gunakan.

Kalau Dynamic Search Ad dengan Responsive display ad, mungkin ini ga cukup waktu untuk pembahasan lebih detail. Tapi, untuk Dynamic Search Ad (DSA) ini bagaimana cara kita untuk membuat sebuah iklan dan juga yang secara otomatis dibuat oleh Google. Jadi, Google membaca halaman website yang kita sediakan atau feed yang kita upload di Google nanti berdasarkan data-data yang ada di situ.

Hanya saja, saya tidak tertarik menggunakan Dynamic Search Ad karena sepertinya kontrolnya jadi kurang. Sementara dengan kita menggunakan yang biasa, itu akan lebih punya kontrol yang lebih banyak lagi.

Kalau Responsive display ad itu untuk display, untuk Google Display Network (GDN). Pembahasannya mungkin bisa di lain kesempatan.

Kita lihat satu per satu ya. Ini Expanded Text Ads mempunyai:

  • Final URL
  • Headline 1-3
  • Path 1-2
  • Description 1-2

Yang Responsive search ad juga sama. Nah, sebenarnya yang membedakan dengan Responsive search ad hanyalah jumlah aset yang bisa kita input. Di sini Responsive search ad ada:

  • Final URL
  • Display URL
  • Headline 1-15
  • Description 1-4

Jadi, ada begitu banyak aset yang bisa kita input di sini sehingga Google bisa lebih leluasa untuk mengombinasikan aset-aset yang kita gunakan ini untuk menciptakan kombinasi iklan yang paling maksimal.

Jadi, sebenarnya di situlah alasan kenapa Google sangat merekomendasikan kita menggunakan yang Responsive search ad daripada yang Text ad saja.

Dan kalau kita lihat fitur-fitur yang diberikan oleh Google juga untuk Responsive search ad ini lebih banyak. Nanti kita bahas soal fitur yang ada di sini. Tapi, di sini saya mau kasih tahu bahwa ada 3 tips yang kita bisa gunakan untuk membuat iklan Responsive search ad:

Relevance (Relevan)

Relevan ini bagaimana sama dengan iklan lainnya. Bagaimana keyword ada di ad-copy. Intinya begitu. Ketika membuat headline misalnya, sebagian besar ad-copy-nya masukkan di sini.

Contoh:

Kalau misalnya kita membuat sampai 15 headline, cara mengisinya adalah seperti berikut:

  • 10 headline mungkin bisa disamakan saja dengan keyword
  • 5 headline lainnya bisa dimasukkan unique selling proposition

Kalau misalnya kita membuat headline-nya 10. Mungkin kita bisa mengisi 7 headline-nya dengan masukkan keyword, dan 3 headline-nya bisa kita masukkan unique selling proposition.

Hal ini dilakukan, agar iklan kita tidak hanya berisi keyword saja. Jadi, ada perpaduan dengan unique selling proposition juga.

Kurang lebih seperti itulah perpaduannya. Tidak harus berapa persen – berapa persen, tapi selalu gunakan keyword yang lebih banyak di dalam headline. Ketika kita lakukan seperti itu, harusnya relevansinya akan semakin kuat. Ditandai nanti dengan adanya indikator kualitasnya.

Quantity (Kuantitas)

Kuantitas atau quantity ini maksudnya adalah jumlah slot yang diberikan di Responsive search ad dimaksimalkan saja. Kalau misalnya kita bisa membuat 15 headline, sebaiknya 15 headline ini kita gunakan dan manfaatkan saja. Description-nya ada 4, ke-4 description-nya manfaatkan saja.

Headline-nya misalnya kita bisa masukkan 30 karakter, kalau bisa isi hingga mencampai hampir 30 karakter. Kalau lebih kan ga mungkin. Tapi, setidaknya, isi hingga mendekati 30 karakter.

Description ada 90 karakter, setidaknya isi hingga mendekati 90 karakter. Sebisa mungkin kita maksimalkan penggunaannya.

Diversity (Keberagaman)

Diversity ini bisa disebut sebagai keberagaman atau unik. Dimana bukan hanya keyword saja. Keyword itu kan sebenarnya punya diversity yang tidak kuat ya. Jadi, keyword yang ada di Ad group itu kan biasanya mirip-mirip kata-katanya.

Nah, makanya saya masukkan sisanya kalau tadi porsi headline-nya 15, 10 saya isi dengan keyword, 5 sisanya saya isi dengan unique selling proposition. Maka dapat diversity-nya.

Quality Indicator

Ketiga tips itu, bisa kita lihat di indikator kualitas (Quality Indicator). Quality Indicator ini menunjukkan seberapa baik Ad-copy atau aset yang kita input. Di sana bisa kita lihat status indikatornya mulai dari:

Incomplete

Kondisi iklannya memang belum lengkap. Misalnya, harusnya kita isi Final URL. Tapi, Final URL-nya belum kita isi, nah, nanti status indikatornya akan menjadi “Incomplete“.

Poor

Kondisi iklannya sudah lengkap. Tapi, mungkin headline-nya hanya diisi 5 dan description-nya hanya diisi 2, biasanya bisa saja status indikatornya Poor. Poor itu artinya kan lemah ya, jadi masih jelek.

Average

Good

Excellent

Kalau Excellent ini agak tricky ya, karena tidak selalu mudah untuk mendapatkan status indikator Excellent. Kalau dapat, bisa dianggap BONUS.

Nah, biasanya saya kejar setidaknya hingga status indikator yang Good. Untuk mengejar status indikator yang Good itu sebenarnya tidak terlalu sulit kalau kita menerapkan 3 tips membuat iklan Responsive search ad yang tadi.

Itu yang kita harus perhatikan dalam pembuatan Responsive search ad.

Terus kita juga di sini bisa melihat ide-idenya. Kalau kita klik pada bagian “View ideas“, nanti akan muncul beberapa ide. Ini darimana sih mengambil datanya? Biasanya Google kalau tidak mengambil dari keyword, bisa dapat dari Landing Page kita. Kemungkinannya bisa dari dua itu.

Nanti kita akan diberikan saran dan idenya seperti apa dan tentu saja bisa kita gunakan. Selain saran dan ide, ada juga beberapa tips yang teman-teman bisa pelajari juga. Bagaimana sih tipsnya membuat headline dan lain-lain?

Jadi, tinggal klik saja View Ideas pada masing-masing poin. Lalu coba dibaca detailnya seperti apa.

Ad strength improvements

Google juga melengkapi satu fitur yang sangat bagus bernama “Ad strength Improvement“. Dimana kita bisa membuka kolom ini di iklan khusus Responsive search ad tentunya. Dan di situ akan diberi tahu apa saja yang bisa kita improve.

Sebagai contoh, di sini ada iklan yang Ad strength-nya sudah Good. Walaupun sudah Good, tapi ada beberapa yang bisa kita maksimalkan lagi. Tinggal kita ikuti saja.

Misalnya ada perintah:

Add more headlines to increase your chances for better performance” jadi, kita diminta untuk menambah headline lagi.

Try including more keywords in your description“, deskripsinya kalau bisa dimasukkan juga keyword yang relevan.

Try adding a few more unique headlines or unpinning some assets“, tambahkan lagi headline yang unik karena Google mengganggap headline-nya masih belum unik. Mungkin tadi komposisinya masih kurang antara keyword dengan unique selling proposition. Jadi, masih bisa disesuaikan lagi.

Dan jangan dipin. Ketika kita membuat iklan, akan ada icon pin di bagian kolom Headline. Kalau teman-teman pin lalu kita tentukan headline 1 untuk diberikan pin, makan nanti headline-nya akan selalu di posisi 1. Nah, itu bisa dipin seperti itu.

Tapi, kalau misalnya dipin, maka peluang sistem untuk membuat kombinasi kan menjadi lebih sempit. Oleh karena itu, sebenarnya oleh sistem disarankan justru untuk tidak dipin.

Dan seterusnya, kita tinggal baca saja yang berada di kolom Ad strength improvements.

Call Ad

Ada 1 iklan, ini mungkin cukup jarang digunakan juga karena tidak semua bisnis juga menginginkan orang melakukan panggilan langsung karena banyak yang mungkin inginnya Sign-up di website atau landing page. Atau klik WhatsApp di website. Tidak langsung call.

Mungkin jenis iklan ini cocok untuk bisnis-bisnis yang sangat kuat sifat urgensinya, seperti ahli kunci misalnya. Ahli kunci itu kan mungkin salah satunya misalnya ada orang yang terkunci di dalam rumah atau orang mau masuk rumah tapi kuncinya rusak, dan sebagainya. Itu kalau teman-teman ketikkan “ahli kunci” di Google melalui browser di smartphone, nanti akan muncul ada saja iklan yang bentuknya ada icon telpon langsung.

Atau mungkin jasa derek mobil. Kan dalam kondisi urgent ya. Misalnya lagi di tol atau rumah kena banjir harus derek. Nah, itu juga bisa saja muncul iklan seperti ini atau Call Ad.

Ini muncul hanya di device yang bisa melakukan panggilan langsung.

Cara Membuat Call Ad

Untuk membuat call ad sama saja seperti membuat iklan seperti pada umumnya. Kita bisa mengisi kolom-kolom seperti:

  • Nomor telpon
  • Final URL (Ini sebenarnya tidak wajib tapi direkomendasikan karena terkadang bisa saja Google memunculkan semacam link tambahan seperti add extensions, yang nanti pada saat muncul iklannya akan ada tulisan “Visit to website” atau nanti pada saat orang klik akan diarahkan ke website. Tapi, tidak selalu muncul.)
  • Verification URL (ini seharusnya diisi juga dengan halaman website kita dimana nomor telponnya tercantum juga. Jadi, Google juga butuh tahu apakah nomor yang diisi di kolom nomor telpon memang tercantum di website kita atau tidak)
  • Display path
  • Headline
  • Business name
  • Description

Jadi, kurang lebih sama dengan penambahan beberapa aset.

Ad features

Kemudian kita lihat ke bagian Ad features. Ini sebenarnya teman-teman bisa coba sendiri. Saya tidak punya banyak waktu dan sepertinya kurang waktu untuk mempraktekkan semuanya. Tapi, akan saya coba jelaskan sedikit.

Keyword Insertion

Ada fitur yang namanya Keyword Insertion. Sebagai contoh, di sini ada 3 headline:

  • Headline 1 ({KeyWord:Korset Pelangsing yang Nyaman})
  • Headline 2 (Korset Pelangsing Terbaik)
  • Headline 3 (Jual Korset Pelangsing Premium)

Jadi, Keyword Insertion ini adalah dimana kita punya tampilan syntax seperti yang berada di headline 1. Kalau teman-teman ketikkan kurung kurawal ({) saja di bagian headline, nanti akan muncul pilihan salah satunya “Keyword Insertion“.

Nah, nanti tinggal kita tentukan saja Keyword Insertion. Sebagai contoh, di sini ada keyword “Korset Pelangsing yang Nyaman”. Keyword “Korset Pelangsing yang Nyaman” ini akan menjadi default-nya.

Tapi, kalau misalnya orang mengetikkan misalnya “Korset untuk Pria”, kalau kita memang memiliki kata kunci “untuk pria” di dalam Ad Group itu, maka yang dimunculkan di headline 1 bukan “Korset Pelangsing yang Nyaman” tapi “Korset untuk Pria”.

Berarti secara tidak langsung kita membuat iklan kita menjadi jauh lebih relevan lagi. Fungsi Keyword Insertion adalah seperti itu.

Jadi, ini dulu cukup populer digunakan ketika Responsive search ad belum ada. Ketika Responsive search ad sudah ada, mungkin agak berbeda karena di Responsive search ad kita bisa memasukkan begitu banyak keyword.

Tapi, di Responsive search ad tetap masih bisa menggunakan Keyword Insertion. Dimaksimalkan saja dan teman-teman bisa coba sendiri.

Countdown

Hampir sama seperti Keyword Insertion, jadi ketika kita menambahkan kurung kurawal ({) akan muncul pilihan salah satunya adalah Countdown. Countdown ini nanti hasilnya nanti seperti ini. Misalnya “Discount 35% Sisa 3 Hari Lagi”.

Tapi, kalau iklannya besok kita cek lagi di Google, nanti tulisan 3 Hari akan berubah menjadi 2 Hari, 1 Hari, dan seterusnya sampai selesai. Jadi, teman-teman sudah terbayang ya yang namanya countdown itu waktu yang terus berkurang.

Jadi, biasanya ini untuk sebuah promo yang terbatas. Dari pada headline-nya diganti-ganti setiap harinya, kita bisa menggunakan countdown seperti ini. Tapi, jangan sampai lupa, kita harus pause atau edit ketika memang promonya sudah berakhir. Karena nanti sudah tidak relevan lagi.

IF Function

IF Function ini dari namanya saja seperti halnya dalam programming itu IF … ELSE … atau jika kondisi apa maka apa. Jadi, sebuah kondisi. IF Function ini ada 2 yang bisa kita gunakan:

  • Kondisi orang itu membuka iklan kita di device mobile atau bukan
  • Apakah iklan yang akan kita munculkan itu text-nya akan seperti apa jika yang melihat iklan kita adalah orang-orang pada audience tertentu. Misalnya orang-orang yang sudah mengunjungi website kita.

Kita akan membahasnya satu per satu.

Device

Misalnya kita membuat di headline 2. Secara default, text-nya itu akan muncul “Cek Website Kami Sekarang”. Jadi, kalau ada user yang melihat iklannya di desktop atau di tablet, maka headline 2 akan muncul tulisan “Cek Website Kami Sekarang”

Tapi, kalau device-nya mobile, maka tulisannya menjadi “Order dari Smartphone Anda”. Tergantung apa yang kita mau set di sini. Jadi IF … ELSE …-nya di situ:

Jika penggunanya menggunakan device mobile, maka headline-nya akan menjadi “Order dari Smartphone Anda”, tapi jika bukan dari device mobile, maka yang muncul adalah “Cek Website Kami Sekarang”.

Audience

Lalu IF Function yang berikutnya bisa berdasarkan Audience. Maksudnya seperti ini. Cara membacanya sama seperti yang tadi ya.

Jika audience-nya adalah orang-orang yang pernah mampir ke website kita, maka saya mau kasih diskon “Booking Hari Ini Diskon 15%”. Tapi, kalau bukan orang-orang yang sudah mampir, yang akan saya munculkan di headline adalah “Booking Sekarang Juga”.

Jadi, ada dua kondisi. Jika orang biasa, maka dia akan melihat default-nya, jika orang yang masuk dalam audience ini, maka headline-nya akan berubah sesuai dengan yang kita tulis.

Location Insertion

Kemudian yang berikutnya ada yang namanya Location Insertion dan ini baru bisa di Responsive search ad saja. Dimana kita bisa membuat seperti ini. Ini caranya sama saja seperti tadi.

Tapi, kita bisa buat dinamis tulisan di headline-nya. Misalnya, kata kuncinya adalah “Kunjungi Dealer”. Di sini dibuat seperti ini. Secara default, sebenarnya kita akan memunculkan “Kunjugi Dealer Honda Hari Ini”. Tapi, ketika saya terapkan Location Insertion di headline, maka jadi seperti ini “Kunjungi Dealer Kota Tangerang Selatan” kalau orang yang melihat iklan ini sedang berada atau tinggal di Tangerang Selatan.

Tapi, kalau saya misalnya orang Bandung, melihatnya bukan kota Tangerang Selatan. Tapi, akan menjadi “Kunjungi Dealer Kota Bandung” atau “Kunjungi Dealer Bandung”.

Nanti terserah Google bagaimana dia menyebutkan nama lokasinya. Artinya text di dalam header-nya akan menjadi dinamis.

Ini mungkin cocok untuk teman-teman yang menargetkan kotanya yang bukan hanya di satu kota saja. Kalau menargetkan hanya satu kota saja misalnya Bandung, nanti itu pasti munculnya selalu Bandung. Tapi, kalau misalnya menargetkan ke seluruh Indonesia, mungkin headline-nya bisa diubah menjadi “Siap Kirim ke …”. Nah, di situ bisa dinamis, berubah tergantung dimana orang itu melihat iklan ini.

Itu adalah tentang Ad Features.

Apa pentingnya Conversion Tracking?

Sekarang saya akan membahas soal Conversion Tracking. Ini salah satu hal yang sangat penting sebenarnya. Karena tanpa Conversion Tracking, sepertinya saya pun tidak bisa melakukan optimasi untuk campaign-nya. Jadi, kenapa Conversion Tracking ini penting?

Karena mungkin ada 3 alasan yang saya bisa sampaikan.

  • Pengukuran (untuk mengukur efektif atau tidak sih campaign yang dibuat dan keyword yang digunakan.)
  • Segmentasi (berapa orang yang masuk ke website kita atau detail produk, klik tombol add to cart, checkout, yang melakukan transaksi, dan sebagainya.)
  • Optimasi (keyword mana saja yang konversinya bagus atau jelek agar bisa dipertahankan atau di-pause)

Simpelnya seperti itu. Di sini saja kita bisa keyword-keyword dengan detailnya seperti:

  • Conversions (jumlah orang yang chat WA ke saya setelah mengklik iklan)
  • Cost/conv. (biaya yang saya keluarkan untuk mengakuisisi orang tersebut)
  • Click (berapa banyak orang yang mengklik iklan saya)

Jadi, dari sini saya bisa tahu keyword mana yang efektif atau keyword mana yang bisa mendatangkan calon pembeli atau calon customer. Itu sangat penting. Tanpa Conversion Tracking, saya tidak akan pernah tahu keyword mana yang paling bagus.

Apakah yang paling banyak mendapatkan klik? Tidak selalu seperti itu juga. Bisa jadi, kliknya bagus tapi konversinya tidak bagus. Makanya, kita harus melihat matriks yang jauh lebih penting lagi.

Kecuali kita benar-benar tidak mengejar konversi, tapi traffic saja. “Pokoknya saya mau mendapatkan klik semaksimal mungkin dan semurah mungkin.

Berarti beda lagi yang dilihat di sini. Yang dilihat berarti misalnya kliknya atau CTR-nya dan juga CPC-nya. Tapi, kebanyakan terutama semua bisnis saya lihat, mereka memang sangat menginginkan akuisisi customer lewat Google Ads ini. Makanya, harus dilakukan Conversion Tracking.

Bagaimana Cara Melakukan Conversion Tracking?

Simpelnya, ini harus dipraktekkan. Saya sebenarnya sudah ada sih videonya, teman-teman bisa pelajari nanti, tapi saya coba jelaskan langsung saja dulu di sini.

  • Klik Tools & Settings
  • Pada bagian Measurement, klik Conversions
  • Klik Website (karena di sini contohnya kita ingin tracking website, kalau teman-teman sudah melakukan set-up goal di Google Analytics, bisa klik Import. Jadi, nanti Conversion Tracking-nya berdasarkan goal yang sudah di-set-up di Google Analytics)
  • Pada bagian Category, tentukan mana yang cocok dengan conversion event yang mau kita buat saat ini. (Misalnya ingin melacak orang yang kontak kita, bisa pilih Contact)
  • Pada kolom Conversion name, isi dengan nama conversion yang diinginkan.
  • Pada bagian Value, pilih dari 3 pilihan (Sebenarnya balik lagi ke teman-teman mau isi atau tidak juga tidak masalah)
  • Pada bagian Count (berapa kali konversi dihitung setiap kali orang mengklik iklan, di sini sudah ada arahan dari Google)
  • Pada bagian Click-through conversion window, pilih 30 days. (ini yang mungkin biasanya kita tidak terlalu sering ubah-ubah. Saya juga sering kali biarkan 30 hari)
  • Pada bagian View-through conversion window, pilih 1 days.
  • Pada bagian Include in ‘Conversions’, centang checkbox-nya. (Apakah yang kita mau buat ini akan kita include di conversion atau tidak)
  • Pada bagian Attribution model, saya biasanya memilih Time decay (bagaimana cara Google Ads untuk mendistribusikan Credit Conversion)
  • Klik Continue

Keterangan pada masing-masing kolom

*Tambahan untuk bagian Value:

Kalau misalnya sebuah e-commerce yang memang bisa dihitung transaksinya lewat website, kita bisa memilih “Use different values for each conversion“.

Nanti akan ada settingan lagi bagaimana kita bisa menarik data total transaksi. Jadi ini dinamis sifatnya. Jadi bisa dihitung, cost 1jt/view-nya berapa tapi tergantung website-nya. Website yang bisa tidak bisa dibuat seperti itu.

Nah, kalaupun misalnya kita mau pilih, bisa pilih yang pertama. Ini juga bisa dipilih kalau kita menjual 1 produk yang nilainya sama. Jadi, kalau kita menjual produknya harganya 20k, yang mana kalau orang beli lalu mengunjungi halaman ini, kita bisa set 20k. Atau kita bisa estimasikan saja kalau kita sudah punya data, benchmark, rata-rata per akuisisi untuk sekali kontak kita 20k, jadi bisa diisi 20k.

*Tambahan untuk bagian Count:

Pilih Every kalau ini adalah sebuah event untuk pembayaran. Karena setiap pembayaran itu berarti.

Tapi, kalau kita misalnya event untuk Leads, Sign-up atau konversi yang lainnya, bisa pilih yang One. Misalnya, saya ingin seperti WhatsApp yang paling banyak kita jumpai. Untuk small business kan “yang penting dapat orang yang WA, deh!” gitu.

Itu kalau pun orang itu mengklik beberapa kali, kita inginnya konversinya terhitung 1 saja karena orang yang sama. Jadi, tidak usah dihitung 2x. Pilih count-nya “One” dalam kondisi seperti itu.

*Tambahan untuk bagian Click-through conversion window

Tapi, apa sih sebenarnya Click-through conversion window ini? Kalau kita lihat penjelasannya di sini:

Conversions can happen days after a person interacts with your ad.

Jadi, sebenarnya ketika ada orang yang mengklik iklan ini, kan tidak selalu convert hari ini. Bisa jadi convert-nya besok, lusa atau beberapa hari ke depan.

Di sini kita bisa menentukan berapa hari periodenya dimana ketika ada user sewaktu-waktu convert di website kita tanpa harus melewati lagi klik iklan, dia akan tetap terhitung.

Contoh:

Hari ini ada seseorang yang klik iklan kita, masuk ke website lalu bookmark website. Sebelum 30 hari, orang itu mengklik bookmark dan mengakses kembali website kita. Lalu, langsung mengklik tombol WA di website kita, ini bisa terjadi konversi, bisa terhitung sebagai konversi.

Nanti kita bisa lihat seperti ini. Jadi, kita bisa membuka data di campaign kita. Ada di bagian menu Segment, ada di atas tabel laporannya. Lalu pilih Days to Conversion.

Di situ, saya bisa melihat dari kasus ini saja padahal kita pikir orang convert itu hanya butuh hitungan beberapa hari atau bahkan di hari yang sama. Padahal tidak juga. Di hari ke-21 saja di sini ada 37 yang convert, lebih banyak dari pada hari-hari yang ada di tengah. Jadi, memang yang paling besar kalau kita lihat datanya ada di hari yang sama paling banyak convert.

Tapi, kita juga bisa melihat bahwa Click-through conversion itu sangat beragam. Sampai di 30 hari pun masih ada yang convert. Dalam kondisi bisnis yang seperti ini, bisa jadi mereka menunggu waktu gajian atau ada uang terlebih dahulu sehingga melakukan bookmark dan membeli saat ada uangnya. Jadi, tidak saat itu juga.

Untuk kondisi seperti ini, sebenarnya kita juga bisa punya ide untuk menjalankan iklan Remarketing sebagai pengingat karena kita lihat Days to Conversion-nya luas juga sampai 30 hari. Jadi, agar ingat, karena kita lihat peluangnya orang banyak yang bisa convert dalam beberapa hari ke depan setelah mengklik iklan.

Seperti itu ya maksudnya.

*Tambahan untuk bagian View-through conversion window

Ini hanya berguna untuk yang iklan display. Jadi, kalau ini penjelasan singkatnya karena kita belum sempat membahas iklan display.

Ketika orang misalnya melihat iklan kita (tapi syaratnya tidak boleh mengklik ya hanya melihat iklan). Lalu, di hari yang sama, sorenya orang itu mungkin melihat iklan lagi di Facebook, SEO atau dia kunjungi langsung karena sudah bookmark, dan terjadi conversion, maka itu akan dihitung sebagai View-through conversion window.

Jadi, bisa saja conversion-nya sedikit tapi justru View-through conversion window-nya banyak.

*Tambahan untuk bagian Include in ‘Conversions’

Jawabannya, ketika conversion yang mau kita buat ini memang dikhususkan untuk event yang sangat penting, misalnya Final Consumer Journey seperti orang yang kontak kita, sign-up, WhatsApp, ini bisa dicentang.

Karena selain memasukkan nilai ini ke dalam kolom conversion (walaupun kolom di Google Ads itu bisa kita buat atau modifikasi sendiri mau formulanya seperti apa), tapi dengan ini sudah ada kolom conversion. Jadi, sudah masuk di sana.

Tapi, selain itu, “If you use conversion-focused bid strategies, they will optimise for these conversions.” Jadi, kalau kita menggunakan bid-strategy yang fokus terhadap conversion yang sudah dibahas pada part 1.

Link: https://renrasedoya.com/google-ads-basics-1/

Misalnya seperti maximize conversion, maximize conversion value, target CPA, target ROAS atau Enhance CPC yang fokus terhadap conversion, maka mereka akan mengoptimasi conversion ini. Jadi, Google akan tahu apa yang sedang kita cari untuk memaksimalkan conversion.

Jadi, fungsinya adalah itu.

*Tambahan untuk bagian Attribution model

Kemudian kita bicara soal Attribution model. Karena ini juga yang akan ditanyakan kita akan memilih yang mana. Ini sebenarnya penjelasan detailnya sangat rumit. Tapi, kita ambil yang sederhananya saja dahulu.

Attribution model ini diartikan bagaimana cara Google Ads untuk mendistribusikan Credit Conversion. Credit Conversion itu apa? Misalnya terjadi konversi, itu terhitung sebagai 1 credit.

Contoh misalnya seperti ini, kita punya 5 keyword, Keyword A-E. Lalu, ada orang yang mencari di Google “Keyword A” sebagai keyword yang mentrigger iklan kita. Lalu, dia masuk ke website dan dia Exit.

Lalu, keesokan harinya orang itu kembali mencari dengan Keyword B. Lalu dia masuk website dan convert. Kalau kita menggunakan Last click, maka yang mendapatkan credit itu hanya Keyword B. Keyword B mendapatkan 1 conversion, keyword A tidak mendapatkan conversion.

Tapi, kalau misalnya kita menggunakan First click, justru Keyword A yang nantinya akan mendapatkan conversion, Keyword B tidak.

Kalau pilih Linear, Keyword A dan Keyword B akan mendapatkan conversion masing-masing 0,5. Dibagi sama rata.

Untuk Time decay, contohnya kalau ada 5 keyword tadi sudah dijelajahi oleh user, lalu keyword ke-5 yang terjadi konversi. Berarti keyword ke-5 ini akan mendapat credit yang besar daripada keyword ke-4, 3, 2, 1. Sama seperti iconnya, semakin ke sini maka credit akan semakin besar. Tinggal dibagi saja 1/5. Tapi, dibaginya tidak sama rata. Dibaginya yang terakhir lebih besar.

Kalau memilih Position-based, klik yang pertama dan yang terakhir porsinya 40% lebih besar dan yang tengah-tengah 2%, dibagi rata.

Jadi, ini bagaimana sistem membagi credit tersebut.

Ada 1 pilihan yang sebenarnya tidak aktif. Yaitu, Data-driven. Kalau yang ini kita harus punya data sebanyak 300 konversi untuk menggunakannya. Jadi, nanti sistem yang akan mengatur sendiri kira-kira Attribution-nya atau pembagian creditnya seperti apa.

Tapi, agar tidak terlalu pusing, saya mulai saja dari yang Time decay.

Sudah selesai! Kita hanya tinggal menginstall tag-nya saja. Nanti akan ada beberapa pilihan:

  • Install the tag yourself (Set tag-nya dengan cara manual)
  • Email the tag (Kirim ke developer atau programmer kita biar mereka saja yang pasang tag-nya)
  • Use Google Tag Manager (Ini adalah salah satu cara yang termudah, salah satu solusi terbaik dari Google yang sudah mengeluarkan tools ini sehingga kita tidak perlu lagi butuh bantuan orang-orang yang paham dengan programming, tapi bisa kita lakukan sendiri dengan Google Tag Manager)

Di sini sudah ada Conversion ID, Conversion label dan instruksinya. Tinggal diikuti saja semuanya.

Penjelasan ini sebenarnya saya sudah pernah buat cukup detail penjelasannya step-by-step bagaimana cara menggunakan Google Tag Manager, set-up Google Ads Conversion Tracking dan bahkan di video ini ada tambahan juga cara set-up Facebook Pixel, karena sebagian dari teman-teman juga memasang iklan di Facebook.

Link: https://renrasedoya.com/google-ads-conversion-tracking

Dan Google Tag Manager bukan hanya tools untuk Google Ads saja. Tapi, lebih general.

Seperti itu untuk Part ke-2. Semua materi juga sudah saya jelaskan. Waktunya ternyata cukup juga. Untuk teman-teman yang mungkin ingin coba belajar lebih banyak lagi, saya juga biasa menyempatkan waktu untuk menulis blog, bikin video. Walaupun tidak setiap hari, saya masih mencoba mencari waktu, kasus, konten dan seterusnya untuk membuat konten-konten yang lebih bermanfaat untuk teman-teman.

Nanti bisa coba kunjungi website saya di renrasedoya.com, kalau ada mungkin 1 problem yang ingin di-share ke saya bisa juga kirim email. Bisa disertakan screenshot dan penjelaskan lebih detail. Karena kadang kalau hanya dalam 1 pertanyaan saja saya juga tidak bisa selalu jawab dengan tepat.

Apalagi setiap akun atau campaign kondisinya berbeda-beda. Jadi, mungkin ada sesuatu atau hal yang saya butuh gali lebih detail lagi dari akun itu, lihat problemnya, baru saya bisa kasih saran-saran.

Dari saya sekian dan terima kasih.

Transcript ini ditulis oleh Aulia, jika terdapat ketidaksesuaian antara video dan transcript, beritahu kami pada kolom komentar. Terima kasih.

Leave a Comment

%d bloggers like this: