Cara Membuat Campaign Google Ads yang Efektif

Video Transcript:

Di video ini saya akan membahas hal-hal apa saja yang harus kita perhatikan dan pahami dalam membuat campaign. Antara lain bagaimana saat kita:

  • menentukan goal yang tepat untuk campaign
  • menentukan bid
  • menentukan budget
  • membuat struktur campaign yang baik
  • menentukan keyword
  • membuat ads
  • dan lain-lain

Menentukan Goal

Sekarang saya mau masuk ke bagian yang pertama yaitu mengenai GOAL. Goal ini adalah tujuan kita menjalankan iklan atau campaign. Idealnya, dalam 1 campaign ini harus ada goal yang utama.

Jadi, kalau misalnya kita sebagai pemilik website e-commerce tentunya goal utamanya adalah revenue atau pendapatan yang bisa didapatkan dari transaksi yang terjadi di website. Tapi, kita juga perlu mengukur aktivitas-aktivitas yang lainnya, tidak hanya transaksi saja. Misalnya saat orang:

  • mengklik tombol add to cart
  • masuk ke halaman checkout
  • register
  • login
  • dan lain-lain

Jadi, yang penting goal utamanya apa dulu nih.

Lalu, biasanya GOAL itu terbagi menjadi 3:

  1. Awareness
  2. Consideration
  3. Conversion

Tapi, kalau yang lebih spesifik biasa disebut sebagai KPI atau tolak ukurnya apa bila campaign kita dianggap sukses atau efektif. Misalnya ketika kita mendapatkan cost/acquisition sekian ribu rupiah. Nah itu KPI-nya.

Sekarang kita coba bahas dulu dari ketiga jenis goal tadi ya. Dalam hal ini, pembahasan kita akan mengenai Search Engine Marketing (SEM) atau Search Ads. Karena penargetan utama dari Search Ads itu adalah keyword, maka dalam pemilihan keyword-nya pun kita harus menyesuaikan keyword yang seperti apa yang akan kita pilih saat campaign memiliki goal awareness, consideration atau conversion.

Biasanya, saya membuat 3 campaign. Karena di brand-brand besar biasanya seperti itu, dibagi 3 bagian untuk campaignnya.

Sebagai contoh, ketika saya membuat campaign dengan goal awareness. Misalnya produknya susu anak. Mungkin awareness di campaign ini keywordnya adalah “susu anak”. Karena susu anak itu ada banyak merk dan jenisnya, ketika kita mencari susu anak, kita tidak bisa mengharapkan terjadi konversi yang banyak di situ. Karena orang-orang bisa memilih banyak brand. Itu contohnya yang awareness.

Ketika saya misalnya membuat campaign dengan goal consideration, keyword yang bisa saya plih misalnya ada 2 brand yang sudah orang bandingkan. Nah, consideration sendiri itu adalah ketika orang sudah cukup tahu dengan sebuah brand dan masih bimbang akan memilih brand yang mana. Misalnya keywordnya itu “dancow vs bebelac” atau “bagusan mana dancow atau bebelac”. Jadi kayak keyword perbandingan. Nah, itu bisa digunakan di dalam campaign yang consideration.

Kalau campaign yang goalnya conversion, biasanya sudah menggunakan keyword brand kita sendiri. Misalnya kita punya produknya adalah susu anak yang bermerk bebelac. Nah, kita bisa tambahkan “promo susu bebelac” atau misalnya “harga susu bebelac”. Bisa seperti itu. Jadi bisa dipisahkan dalam keywordnya kalau yang SEM.

Goal ini juga pastinya akan berhubungan dengan KPI yang sebelumnya saya sudah sempat singgung. KPI ini adalah Key Performance Indicator yang menjadi tolak ukur bilamana campaign kita dikatakan sukses atau berhasil. Dan setiap bisnis dan produk pasti berbeda-beda KPI-nya.

Lalu, goal juga berhubungan dengan keyword. Seperti yang sudah saya contohkan, bisa juga dengan penargetan yang lainnya. Misalnya kalau conversion mungkin akan menggunakan penargetan… ini misalnya contohnya bukan hanya di campaign SEM ya misalnya di campaign display atau video ads. Ketika kita memiliki goal conversion mungkin kita bisa menggunakan penargetan remarketing atau similar audience atau in market.

Ketika kita misalnya goalnya adalah awareness, kita bisa memilih afinity. Jadi, dari sisi platform Googlenya itu sendiri sudah memberikan opsi penargetan yang sebenarnya banyak dan bisa disesuaikan dengan goal yang kita inginkan.

Tentu juga tidak hanya itu, hanya sebatas targeting saja. Kita juga pasti bisa menyesuaikan offer yang kita tawarkan di landing page, iklan, copywriting, dan lain-lain. Jadi, tentu akan banyak bagian yang disesuaikan dari goal ini.

Kemudian problem yang banyak saya temukan juga adalah si campaign itu tidak hanya mengejar 1 goal. Padahal idealnya adalah 1 campaign 1 goal. Goal yang utama. Kalau ada banyak action atau activity dari user yang kita tracking ya terserah. Tapi goal utamanya harusnya idealnya hanya 1.

Coba saja bayangkan ketika teman-teman membuat campaign itu kan step awalnya diminta untuk memilih goalnya apa. Itu kan harusnya 1. Contoh misalnya yang sering saya temukan problem itu misalnya ada 2 KPI yang ingin dikejar. Misalnya KPI-nya

  • harus murah CPCnya
  • dan harus conversionnya

Biasanya kalau kita ketemu yang seperti ini, kita akan mengalami kendala sendiri. Misalnya ada client yang ingin CPCnya harus 1rb rupiah dan tidak boleh lebih dari 1rb. Selain itu, conversion-nya juga harus dapat sekian banyak. Sementara untuk mendapatkan conversion yang berkualitas kan bisa jadi ya si bidnya juga ikut menjadi faktor penentu. Ketika bidnya dinaikan, kan otomatis bisa mempengaruhi CPC itu jadi kayak bertolak belakang.

Atau contoh lain misalnya CPC-nya tetap ingin yang murah tapi impression share harus sekian % gitu. Nah, salah satu faktor yang mempengaruhi impression share adalah ranking. Ranking itu kan bisa jadi dari bid juga atau quality score. Jadi, hal-hal seperti itu kayak bertolak belakang. Jadi, sebaiknya jangan sampai memilih KPI 2 hal yang terlalu bertolak belakang dan susah untuk dikejar secara bersamaan.

Artinya seharusnya jika ada client yang mungkin belum paham, kita bisa kasih semacam edukasi atu pencerahan mengenai penentuan KPI atau goal itu harusnya seperti apa.

Mudah-mudahan bisa dipahami ya seputar goal, KPI dan contoh keyword yang dipilih sesuai goal yang diinginkan.

Srategi Bid dan Budget

Ini merupakan scene utama dari Google Ads yang mana ketika kita ingin mencapai goal conversion, maka bid strategy-nya juga harus berhubungan dengan conversion. Ketika goalnya adalah awareness, di sini juga kita harus memilih yang berhubungan dengan awareness.

Untuk bid strategy ini, bisa berbeda-beda setiap tipe campaign atau bahkan format iklannya. Contohnya, misalnya di sini untuk Search Campaign ada:

  1. Target CPA
  2. Target ROAS
  3. Maximize Click
  4. Maximize Conversions
  5. Maximize Conversions Value
  6. Target Impression Share
  7. Manual CPC

Jadi, ini semuanya terbagi menjadi 2 kategori. Automatic dan Manual. Tapi, ketika kita membuat campaign yang tipenya Display, kategorinya pun tidak sama persis dengan yang Search.

  1. Target CPA
  2. Target ROAS
  3. Maximize Click
  4. Maximize Conversions
  5. Viewable CPM
  6. Manual CPC

Dan untuk Gmail Ads lebih sedikit lagi, hanya ada:

  1. Target CPA
  2. Target ROAS
  3. Maximize Conversions
  4. Manual CPC

Dengan menggunakan Automated Bidding di sini, sistem Google Ads akan menggunakan data yang sudah didapatkan ketika campaign berjalan sebelumnya dan secara otomatis dia akan mengoptimasi bidding kita. Kalau misalnya secara sistem dia lihat “sepertinya kesempatannya ada nih untuk konversi”, maka bidnya bisa dinaikkan.

Signal-nya pasti akan ada banyak ya. Dia akan melihat bagaimana behavior si user sebelumnya ketika ada orang yang memang sebelumnya banyak mencari tentang produk tertentu, maka ketika dia mengetikkan keyword itu lagi di Google, Google Ads ini akan tahu “Oh , ini orang memang punya potensi yang besar karena sebelumnya sudah pernah riset produk tersebut.” Jadi, mungkin bidnya akan dinaikkan ketika ketemu orang seperti itu.

Nah, itu sebagai gambaran bagaimana Automated Bidding bekerja.

Lalu, budgetnya juga akan disesuaikan. Artinya, ketika kita menentukan budget, sistem akan memanfaatkan budget itu semaksimal mungkin untuk mencapai goal yang diinginkan.

Tadi adalah contoh lain ketika beda campaign bisa beda bid strategy. Untuk contoh dari beda format iklan, misalnya di YouTube atau Video Ads. Ketika kita memilih ads formatnya bumper ads, itu yang bisa dipilih harusnya hanya CPM, misalnya yang non-skipable juga bisa pilih CPM. Terus ketika kita ingin mencapai atau menginginkan konversi menggunakan Review for Action, maka bid strategy-nya harus dipilih Target CPA atau Maximize Conversion.

Itu juga bisa berbeda-beda, walaupun bedanya hanya di format iklannya saja.

Automated Bidding

Sekarang kita coba lihat penjelasan lebih detail mengenai Automated Bidding karena materi ini sering ditanyakan di forum atau grup diskusi mengenai apa sih bedanya dari masing-masing Bid Strategy ini.

Goal: Mendapatkan Banyak Visitor

Kalau manual sudah jelas ya kita menentukan bidnya bisa level Ad Group atau puny level Keyword jadi benar-benar manual. Tapi yang automated ini ada banyak pilihan. Contoh, ketika kita goalnya itu ingin mendapatkan banyak visitor di website, maka kita bisa memilih Maximize Click. Nanti sistem akan otomatis menentukan bid yang tepat untuk mendapatkan klik sebanyak mungkin dari budget yang sudah kita siapkan.

Goal: Meningkatkan Visibilitas

Contoh lain misalnya, ketika kita ingin goalnya untuk meningkatkan visibility agar iklan kita ini lebih sering muncul atau terlihat. Di sini ada yang namanya Target Impression Share yang mana akan secara otomatis menentukan bid agar iklan kita bisa tayang di posisi paling atas atau di posisi atas dari sebuah halaman tapi tidak harus posisi 1. Bisa posisi 2, 3, atau 4. Atau dimana pun dari halaman hasil pencarian.

Jadi, kalau misalnya goalnya tadi ingin memaksimalkan impression share, bisa coba juga di strategi ini.

Goal: Ingin Mendapatkan Konversi dengan Adanya Patokan Nilai Harga

Yang goalnya ingin mendapatkan konversi tapi punya patokan nilai harga per akuisisinya atau yang biasa disebut target cost/acquission (Target CPA). Di sini, Google juga sudah menyiapkan target CPA untuk pilihan di bid strateginya. Ini otomatis akan menentukan bid yang sesuai. Tapi dia akan usahakan per konversinya itu di rata-rata sekian. Tentu akan ada yang lebih rendah, ada juga yang lebih tinggi. Tapi, secara keseluruhan sistem akan berusaha untuk mencapai target CPA di angka berapa.

Goal: Total Transaksi

Kemudian ada yang namanya Target ROAS. Ini kalau goalnya adalah revenue atau total transaksi. Biasanya ini digunakan untuk website e-commerce yang transaksinya terjadi di website. Kita bisa menggunakan target ROAS. Dan ini mirip-mirip dengan target CPA yang sebenarnya akan menentukan bid untuk mendapatkan conversion value dari target ROAS yang kita inginkan.

Jadi target ROAS ini rumusnya, kalau di Google Ads adalah:

Conversion Value / Cost

Nah, matriknya sudah ada sebenarnya. Tinggal teman-teman buka saja matriknya ada di bagian Group Conversion.

Goal: Mendapatkan Banyak Visitor

Kemudian di sini ada juga targetnya adalah Conversion tanpa ada patokan seperti harga per acquisition atau ROAS, di sini ada pilihannya Maximize Conversion. Jadi, ini tidak dikontrol seperti Target CPA atau Target ROAS. Tapi, sebenarnya tujuan utamanya sama saja untuk memaksimalkan conversion.

Goal: Mendapatkan Konversi

Ini juga sama. Jadi, kalau yang Maximize Conversion Value akan mirip dengan target ROAS. Kalau yang Maximize Conversion ini lebih mirip ke Target CPA. Hanya saja kedua ini memiliki nilai untuk mengontrol ada nilai yang ingin ditargetkan berapa. Tapi, kalau yang Maximize Conversion Value tidak ada.

Jadi, seperti itu kurang lebih penjelasan soal Automated Bidding.

Campaign Structure

Sekarang kita masuk ke pembahasan Campaign Structure. Karena ini menurut saya menjadi bagian yang fundamental yang sangat mendasar. Kalau campaign structure-nya berantakan, biasanya akan lebih sulit optimasinya. Dan salah satu yang dinilai juga kan campaign structure-nya.

Contoh misalnya kita hanya punya 1 Ad Group dimana keywordnya dimasukkan semua ke sana dalam 1 ad group yang tidak dikelompokkan berdasarkan tema. Sehingga secara ga langsung iklannya pun jadi ga relevan.

Ini contoh Campaign Structure:

Kalau kita lihat bagian paling atas ada Google Ads Account. Ini adalah akun Google yang berhubungan dengan billing, email dan lain-lain ada di level Account.

Di dalam Account tentu kita bisa membuat banyak Campaign. Campaign ini bisa berdasarkan produk, promo. Misalnya ada promo yang per bulan atau hari-hari tertentu, kita bisa pisahkan dalam campaign. Atau mungkin kita ingin menargetkan beriklan tapi biayanya misalnya dibedakan setiap lokasi. Nah, itu bisa dibuat campaign yang terpisah.

Di dalam 1 campaign, kita bisa memiliki banyak Ad Group. Ad Group ini nantinya akan ada kaitannya dengan Keyword dan Iklan. Kalau misalnya Ad Group-nya di sini tentang tema tertentu, misalnya:

  • Ad Group-nya “Jual”, berarti keywordnya berhubungan dengan jual.
  • Ad Group “Promo”, berarti keywordnya ada kata-kata promo

Dibuat spesifik seperti itu. Nanti di iklannya pun akan lebih sesuai.

Organize Campaign & Ad Groups

Nah ini adalah contoh bagaimana kita mengelola Campaign dan Ad Group:

  • Account. Misalnya akunnya di sini untuk perusahaan online elektronik store.
  • Campaign. Ada 2 campaign yang berisi produknya. Di sini ada TV dan kamera.
  • Ad Group. Di dalam campaign TV ada 2 Ad Group: Flat Screen TV dan Plasma TV. Jadi dipisah lagi. Dan kalau ada jenis yang lainnya lagi bisa dipisah lagi di Ad Group yang terbaru. Dan di dalam campaign Kamera ada 2 Ad Group juga: Digital Camera dan Compact Camera.
  • Keyword. Nanti di dalam Ad Group Flat Screen TV, keywordnya pun pasti ada kata “Flat Screen TV”. Begitu pun keyword di Ad Group yang lainnya.
  • Iklan. Iklannya harus berhubungan dengan masing-masing Ad Group.

Lalu, iklan per Ad Group sampai saat ini disarankan 3 iklan (2 text ad dan 1 responsive) walau pun sebenarnya dengan kita membuat 1 responsive saja menurut saya sudah menyediakan banyak aset. Kita bisa lihat dalam 1 iklan responsive itu kita bisa menulis sampai 15 variasi headline dan 4 deskripsi. Hanya saja kalau kita klihat sekarang rekomendasinya masih seperti itu.

Pembuatan Iklan

Bagaimana sih tips dalam pembuatan iklan? Menurut saya ada 3 yang paing penting:

Relevan

Jadi, iklan kalau bisa dan sangat diusahakan bisa relevan dengan keyword dan landing page. Kenapa harus sesuai? Logikanya, ketika orang mengetikan kata kunci pencarian di Google, misalnya orang mencari “promo tv samsung”. Ketika dia melihat iklan, kalau melihat headlinenya juga promo tv samsung, otomatis dia akan otomatis lebih tertarik untuk mengklik iklan tersebut karena sesuai dengan apa yang dia cari.

Ketika dia mengklik iklan, seharusnya dibawa ke halaman promo tv samsung juga. Jadi engan relevan seperti itu, tentu diharapkan hasil akhirnya, konversinya akan lebih bagus.

Untuk membuat relevan, sebenarnya Google Ads punya fitur-fitur yang cukup advance yang mungkin jarang orang gunakan. Misalnya:

  • Dynamic keyword insertion
  • Location insertion
  • Ad costumizer
  • If function (kalau misalnya yang cari adalah orang yang sudah pernah mengunjungi website kita, nanti textnya disesuaikan. Atau orang yang menggunakan handphone dalam pencarian nanti textnya disesuaikan)

Itu adalah beberapa fitur powerful yang jarang digunakan.

Penawaran yang Menarik

Buatlah penawaran yang menarik yang sulit untuk ditolak. Pasti dalam iklan juga kita harus memasukkan apa yang kita tawarkan kepada Audience. Contoh misalnya kita bisa menawarkan diskon, gratis ongkir, free trial, bonus, urgensi dan scar city agar orang ini lebih mau untuk ambil action dalam waktu yang cepat.

Comply dengan Kebijakan Google Ads

Hal ini bertujuan agar iklannya diterima.

Ad Extensions

Ad Extensions ini adalah informasi tambahan yang bisa ditampilkan bersama iklan. Ini ada video dari Google Langsung. Ini saya play langsung ya biar bisa teman-teman lihat bersama (Lihat video di atas menit ke 26:07).

Jadi, ketika ada iklan yang muncul di hasil pencarian, di sini kita bisa lihat ada tambahan seperti ini (deskripsi yang lebih panjang, link tambahan ke beberapa produk lain di website, tombol telpon, lokasi). Ini adalah contoh dari extension.

Cara mengakses Ad Extension

  1. Pilih campaign
  2. Menu Ads & Extensions
  3. Klik Tab Extensions
  4. Klik tombol plus biru
  5. Pilih Extensions yang diinginkan

Ad Extension ini bisa kita tambahkan di level Account, Campaign atau Ad Group. Jadi tergantung sih kalau misalnya menurut teman-teman site linknya kayaknya akan selalu sama untuk semua campaign, kita bisa Add di level Account. Tapi, kalau misalnya extensionnya berbeda-beda untuk Campaign, bisa Add di level Campaign. Begitu juga kalau misalnya harus beda di setiap Ad Group, bisa Add di level Ad Group.

Callout Extension adalah keterangan yang berhubungan dengan produk. Kita bisa lihat juga previewnya dalam format desktop atau pun mobile. Di sini ada opsi tambahan kita bisa optimasi lebih masksimal di mobile, kita juga bisa atur jadwalnya.

Dalam video juga dijelaskan singkat mengenai pembuatan Structured Snippet. Jadi ada pilihan headernya bisa bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Nanti bisa disesuaikan saja dengan kira-kira cocoknya apa produknya. Ada value atau isinya.

Dijelaskan bagaimana cara pembuatan site link juga. Site link itu ada textnya ada final URL-nya, ada juga descriptionnya, tapi itu optional.

Nah ini cara bagaimana kita bisa melihat laporannya Ad Extensions. Kita bisa lihat datanya berapa banyak sih iklan ini diklik saat Extensions ini tayang.

Itulah penjelasan langsung dari Googlenya. Sebagai tambahan, bahwa dari Google sendiri dengan kita menambahkan Extensions, iklan kita bisa mendapatkan klik lebih maksimal. Jadi, di sini bisa menaikkan CTR hingga 15%.

Kenapa sih kok bisa menaikkan CTR? Karena iklan kita lebih stand out, terlihat, berbeda dengan iklan lainnya yang tidak menggunakan Extensions. Dan lebih memberikan pilihan kepada audience kita.

Di sini ada 3 Extensions yang direkomendasikan karena cocok untuk bisnis atau produk apa pun:

  1. Sitelink Extensions
  2. Callouts
  3. Structured Snippets

Jadi, setidaknya 3 extensions ini digunakan. Ada pun untuk lokal bisnis misalnya ingin kita tambahkan Local Extensions, yang mau mendapatkan call bisa tambahkan Call Extensions, itu terserah. Selebihnya itu bisa kita tambahkan Extension yang sesuai. Tapi untuk 3 extensions ini harusnya selalu sesuai untuk setiap produk.

Extensions lainnya yang bisa digunakan:

  • Call Extensions
  • Lead Form Extensions
  • Location Extensions
  • Affiliate Extensions
  • Price Extensions
  • App Extensions
  • Promotion Extensions

Seperti itu ya, yang bisa saya share untuk kali ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih.

Transcript ini ditulis oleh Aulia, jika terdapat ketidaksesuaian antara video dan transcript, beritahu kami pada kolom komentar. Terima kasih.

Leave a Comment