Selama bertahun-tahun membantu berbagai bisnis di Indonesia melalui Digimaya, serta aktif dalam komunitas Next Gen, saya sering menemui pertanyaan terkait kebijakan iklan di Google Ads. Salah satu yang paling banyak ditanyakan adalah tentang Personalized Advertising. Kalau kamu sering beriklan di Google, pasti sudah tidak asing lagi dengan kebijakan ini.
Dulu, Google Ads terasa lebih bebas, di mana pengiklan bisa menargetkan audiens berdasarkan berbagai data yang tersedia. Tapi sekarang, dengan semakin ketatnya regulasi dan meningkatnya kesadaran tentang privasi pengguna, Google membuat banyak aturan baru, terutama terkait iklan yang dipersonalisasi.
Yuk Kita Pahami Dulu Konsepnya!
Personalized advertising adalah strategi periklanan yang menargetkan pengguna berdasarkan data perilaku mereka secara online. Misalnya, kalau kamu sering mencari produk skincare, kemungkinan besar kamu akan banyak melihat iklan tentang skincare di berbagai web dan inventory Google, ya karena algoritmanya sudah mempelajari prilaku kamu.
Secara umum, sebenarnya personalized advertising sangat bermanfaat, baik bagi pengiklan maupun pengguna. Pengiklan bisa mendapatkan hasil yang lebih baik karena iklannya lebih relevan, sementara pengguna pun mendapatkan pengalaman yang lebih baik karena mereka melihat iklan yang sesuai dengan minat mereka.
Tapi di balik itu, Google punya tanggung jawab besar dalam mengelola data pengguna. Google menyadari bahwa ada beberapa kategori yang terlalu sensitif untuk dijadikan target iklan, karena bisa berdampak negatif pada pengalaman pengguna.
Apa Saja Tuh Kategori Sensitif yang Tidak Boleh Ditargetkan?
Dari pengalaman saya menangani banyak campaign di Digimaya, salah satu tantangan terbesar bagi pengiklan adalah memahami batasan dalam targeting iklan. Google memang melarang penggunaan data dalam kategori berikut untuk personalized advertising:
1. Masalah Pribadi
Google tidak mengizinkan targeting berdasarkan kesulitan pribadi seseorang, seperti:
- Masalah kesehatan (contoh: penyakit kronis, kesehatan mental, operasi kecantikan dll.)
- Kesulitan finansial (contoh: kebangkrutan, utang, pengangguran dll.)
- Masalah hubungan (contoh: perceraian, layanan konsultasi keluarga, dll)
- Pengalaman traumatis atau menjadi korban kejahatan.
Dulu, beberapa bisnis masih bisa menargetkan pengguna berdasarkan kondisi finansial atau kesehatan mereka, tapi sekarang Google menilai ini bisa dimanfaatkan secara tidak etis, sehingga tidak lagi diperbolehkan.
2. Identitas & Keyakinan
Iklan tidak boleh menargetkan audiens berdasarkan identitas atau kepercayaan mereka, termasuk:
- Orientasi seksual
- Pilihan politik
- Ras dan etnis
- Kepercayaan agama
- Keanggotaan dalam kelompok sosial yang sensitif
Misalnya, jika kamu menjual produk yang secara khusus ditujukan untuk kelompok tertentu berdasarkan agama atau ras, kamu tetap tidak boleh menggunakan informasi tersebut sebagai dasar targeting di Google Ads.
3. Orientasi Seksual
Kategori ini juga sangat sensitif. Google melarang targeting berdasarkan:
- Alat kontrasepsi
- Produk kesehatan seksual
- Konten yang bersifat seksual
Banyak bisnis yang dulu masih bisa menampilkan iklan terkait edukasi kesehatan seksual dengan targeting yang lebih spesifik. Tapi sekarang, semua konten ini masuk dalam kategori terbatas.
Lalu Bagaimana solusinya?
Kalau kamu adalah advertiser yang sering menggunakan custom audiences atau remarketing lists, sekarang kamu harus lebih berhati-hati.
Ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk tetap mematuhi kebijakan ini:
Gunakan Google Predefined Audiences
Google memiliki audiens bawaan seperti Affinity, In-Market, dan Life Events yang sudah dikurasi agar tidak melanggar kebijakan. Kategori audiens seperti ini kebijakannya lebih longgar. Jadi masih bisa digunakan, bahkan jika kamu mempromosikan produk di kategori sensitif.
Jangan Gunakan Custom Audiences untuk Produk Sensitif
Jika kamu beriklan di kategori seperti kesehatan atau keuangan, hindari penggunaan Customer Match atau Lookalike Audiences.
Pastikan Landing Page Sesuai
Google tidak hanya melihat targeting iklan, tapi juga konten di landing page. Jika kontennya mengarah ke kategori sensitif, iklanmu bisa tetap ditolak.
Teliti dalam Menulis Ad Copy
Jangan pernah mengumpulkan informasi pribadi dalam iklan (misalnya meminta email atau nomor telepon langsung di dalam iklan).
So, intinya adalah kepatuhan terhadap kebijakan Google adalah hal yang tidak bisa ditawar. Sekali kamu melanggar, bisa berakibat fatal, mulai dari penolakan iklan, penurunan ad quality score, hingga account suspension.
Tapi bukan berarti iklan yang kena personalized advertising tidak bisa profit ya, pahami benar-benar penjelasan di atas, ada banyak solusi untuk membuat iklannya tetap tayang dan mendapatkan konversi.